AKURAT.CO Pemikiran Kyai Sholeh Darat terus menjadi perhatian pengkaji Islam di Semarang. Terbaru, hal tersebut dijadikan tema pembinaan Asatidz Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur'an (Badko LPQ) Kota Semarang pada Minggu sore (29/1/2023) di kantor

sekretariat Jl. Dewi Sartika Timur XIV Gajahmungkur. 

Dalam pembinaan Asatidz kali ini, Badko LPQ Kota Semarang mengundang narasumber Dr. M. Rikza Khamami, M. SI yang menjelaskan bahwa Kota Semarang bukan kota biasa dengan banyaknya Waliyullah (Wali-wali Allah) seperti Sunan Bayat, Sholeh darat, syaikh Jumadil kubro, dan lain-lain.

"Tentu ini menjadi nilai kesan religius tersendiri bagi kota ini, disamping banyak pengunjung yang melakukan ziarah di sekitar Kota semarang seperti Demak, Kudus yang dikenal segabai walisongo, semarang menjadi tujuan juga dalam melaksanakan ziarah," ucap Dosen UIN Walisongo Semarang ini. 

Rikza menjelaskan bahwa Kyai Sholeh Darat memiliki murid bernama Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari sebagai salah satu pahlawan nasional dan menjadi tokoh organisasi islma terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatull Ulama.

Selain itu, Kartini yang seorang pahlawan nasional perempuan juga menjadi murid dari kyai Sholeh Darat yaitu yang terkenal dengan kata-kata “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

 

 

"Dalam kehidupan, khusunya dalam dunia pendidikan, mempelajari apa yang diajarkan kyai Sholaeh Darat setidaknya ada tiga rumus Ta’ (Ta’alluq, tasamuh, tawadhu’)," ungkap Rikza

Pertama Ta’alluq, harus ada ketertarikan terhadap bidang yang ingin dipelajari. Ada kesenangan sehingga dalam mencari ilmu dalam megajarkan ilmu murid merasa senang.

Kedua Tasamuh, harus memiliki sikap toleransi, menghargai dengan perbedaan pendapat dalam dunia ilmu. Namun hal itu harus bersanad dan tentu bersandar pada hukum agama (Al-qur’an dan Hadist).

 

Ketiga Tawadhu’, sikap yang dijarakan di berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non formal ini memperlihatkan bagaimana dalam mengagungkan ilmu dan guru sangat dibutuhkan untuk mendapatkan manfaat dan ridho dari guru. 

Di Kota semarang sendiri, ujar Rikza, sekarang sudah membentuk komunitas pecinta Sholeh Darat (KOPISODA) dengan maksud untuk mengkaji, meneladani, mempelajari apa yang menjadi karya-karya Kyai Sholeh Darat.

"Tentu ini menjadi pengingat bagi kita sebagai insan yang terjun di dunia pendidikan. Selain itu penting ziarah kepada guru dan orang yang membuat dan menyusun kitab yang kita kaji," tandas Rikza yang meneliti karya dan kehidupan kyai Soleh Darat.

 

"Ketika ingin diziarohi maka zirahlah terlebih dahulu kepada guru. Ziarah itu menghadirkan kita kepada orang yang tidak kita lihat," lanjut kepala pusat pengabdian masyarakat LP2M UIN Wlaisongo yang telah melakukan penelitian terhadap karya dan kehidupan kyai Soleh Darat.

Terkahir, Rikza berpesan, jadikan Badko LPQ sebagai medan perjuangan untuk jalan menuju akhirat.

Dalam kesempatan pembinaan Asatidz kali ini dihadiri oleh seluruh perwakilan 16 dari ketua Badko LPQ kecamatan secara luring dan hadir dalam online sebanyak 300 peserta.

Di akhir, saat memberikan sambutannya Ketua Badko LPQ Kota Semarang Dr Bahrul Fawaid MSI menegaskan bahwa Lembaga harus mempunyai tanda daftar dan berbadan hukum. Sebab di tahun 2023 ini banyak LPQ yang habis masa ijin tanda daftar, perubahan pengajar, dan sebagainya.

"Maka dari itu untuk menunjang bahwa Lembaga Bapak dan ibu mendapatkan kuota bisyaroh maka hal tersebut harus diperhatikan, karena dalam paradigma Pendidikan konsep instrokpeksi sangat perlu untuk meningkatkan kualitas pendidik," ucap Doktor bidang hukum di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) ini menegaskan pentingnya legalitas badan hukum untuk kesejahteraan Asatidz.