Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Qur’an (Badko LPQ) Kota Semarang baru-baru ini mengadakan kegiatan pembinaan bagi para ustadz dan tenaga pendidik (asatidz). Acara ini bertujuan memperkuat sistem administrasi dan kepemimpinan di berbagai Lembaga Pendidikan Qur'an (LPQ). Kegiatan yang berlangsung pada 1 dan 3 Juli 2024 ini menekankan pentingnya pembaruan data lembaga secara berkala.

Moch Dimyati, Ketua 1 Badko LPQ Kota Semarang, menekankan bahwa pembaruan data lembaga menjadi prioritas utama untuk menjaga akurasi informasi, memastikan kelancaran administrasi, dan meningkatkan efisiensi operasional. "Dengan data yang akurat, LPQ dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan memberikan pelayanan terbaik kepada santri," ujarnya.

Dalam forum ini, peserta diingatkan bahwa data yang tidak terbarukan dapat menyebabkan berbagai masalah administratif, termasuk dalam pengelolaan dana dan program. Setiap lembaga diwajibkan untuk secara rutin memeriksa dan memperbarui data mereka melalui sistem yang telah disediakan. Dr. H. Bahrul Fawaid, Ketua Umum Badko LPQ Kota Semarang, menambahkan bahwa salah satu indikator utama akuntabilitas lembaga adalah pengunggahan surat pertanggungjawaban (SPJ) secara akurat dan tepat waktu.

Ketidakpatuhan dalam pengunggahan SPJ dapat berdampak pada status lembaga dan mempengaruhi penerimaan bantuan serta dukungan lainnya. Lembaga yang tidak melengkapi data termasuk ketidakmampuan mengunggah SPJ dengan baik akan dimasukkan dalam kategori Tipe B. Status ini membawa konsekuensi serius, sehingga semua lembaga diharapkan melengkapi data mereka dengan detail dan akurat.

Lembaga dengan tiga kategori (TKQ-TPQ-TQA) yang belum memiliki Izin Operasional (IJOP) juga diwajibkan menyamakan data dengan TPQ, termasuk nomor daftar dan nomor sertifikat. Data pengajar dan santri harus dilengkapi mencakup riwayat pendidikan dan nomor telepon. Ketidakpatuhan dalam pengisian data ini dapat mengakibatkan penurunan status lembaga ke Tipe B (tidak aktif).

Selain itu, penerima bisyaroh (tanda terima kasih) turut diingatkan akan tanggung jawab mereka menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Para asatidz yang diterima sebagai ASN/PPPK diwajibkan untuk melapor. Ketidakpatuhan dalam hal ini dapat mengakibatkan sanksi berupa denda yang bertujuan untuk menjaga integritas dan transparansi di lingkungan LPQ.

Program pembuatan seragam baru juga akan mulai dilaksanakan guna menciptakan profesionalitas di lingkungan kerja. Pembelian seragam diwajibkan bagi penerima bisyaroh dan harus dilakukan melalui Sistem SIGAP yang dirancang untuk memudahkan akses dan memastikan transparansi. Sistem ini memastikan semua transaksi terdata dengan baik dan dapat dipantau.

Melalui pembinaan ini, diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan dan keteraturan administrasi di lingkungan LPQ Kota Semarang. Dengan adanya pembaruan sistem dan penekanan pada tanggung jawab individu, para asatidz diharapkan dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih profesional dan berintegritas. Pembinaan ini juga bertujuan untuk memperkuat rasa tanggung jawab dan profesionalisme di kalangan asatidz, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi perkembangan lembaga dan masyarakat sekitar.

Dengan upaya ini, LPQ Kota Semarang diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya dalam hal akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme. LPQ tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pilar penting dalam pembangunan karakter generasi muda.

link Youtube Vidio Pembinaan Via Youtube


 Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengungkapkan, pendidik Lembaga Pendidikan Al Quran (LPQ) memiliki peran penting untuk menjadikan generasi emas Indonesia pada tahun 2045.

Hal itu ia ungkapkan di hadapan sekitar 2.525 ustadz ustadzah LPQ se-Kota Semarang pada acara Silaturahmi dan Halalbihalal Badko LPQ Kota Semarang bersama Wali Kota Semarang, di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Sabtu (11/5/2024).

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Ita tersebut mengatakan, para ustadz LPQ tiada jemu selalu mengajak anak-anak untuk cinta Islam, cinta Alquran, dan cinta kepada sesama.

Hal itu, menurutnya merupakan pendidikan karakter dan pendidikan mental yang dibutuhkan anak-anak.

“Kita melihat ini adalah satu pendidikan karakter yang diperlukan oleh anak-anak kita. Dan ini terbukti Kota Semarang kemarin juga menjadi juara umum MTQ tingkat Jawa Tengah,” katanya.

Karena tidak mungkin, para peserta itu langsung bisa membaca Alquran dengan baik, tanpa peran serta dan didikan dari para ustadz.

“Tidak mungkin besar langsung bisa baca bagus. Pastinya pada saat kecil dulu diajari oleh bapak ibu guru. Setiap hari, setiap saat bapak ibu guru selalu mendorong anak-anak kita,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Ita juga menyampaikan niatnya untuk menambah jumlah penerima bisyaroh pendidik nonformal dari LPQ. Untuk saat ini penerima bisyaroh ada sekitar 2.525 ustadz.

“Tahun depan semoga bisa nambah lagi untuk temen-temen atau guru-guru TPQ yang lainnya yang belum dapat,” katnya.

Sementara itu, Ketua Badko LPQ Kota Semarang Bahrul Fawaid mengatakan, jumlah pendidik anggota LPQ Kota Semarang ada sekitar 7.000 orang. Dari jumlah tersebut baru 2.525 orang yang menerima bisyaroh.

“Ini yang kita undang hanya 2.525 ustadz dari total tujuh ribuan anggota kita. Tapi yang hadir lebih dari itu, jadi ada yang tidak kita undang tapi turut hadir dalam acara silaturahmi dan halalbihalal bersama Wali Kota Semarang,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Faid berpesan kepada para ustadz anggota Badko LPQ, untuk selalu merapatkan barisan bersama Pemkot Semarang. “Yang pertama mendukung setiap program Pemerintah Kota Semarang sesuai dengan visi kami, yakni mewujudkan generasi yang kokoh dalam akidah, rajin dalam beribadah, berakhlakul karimah, dan cinta tanah air Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Untuk mewujudkan generasi emas, Faid mengatakan, pihaknya rutin menggelar pembinaan setiap bulan. Pembinaan dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari pembinaan organisasi, kelembagaan, dan santri.

“Untuk pembinaan organisasi, setiap bulan kita adakan pembinaan rutin di kantor. Untuk pembinaan lembaga, setiap momen tertentu kita juga panggil mereka dan juga kita serahkan ke LPQ kecamatan,” katanya.

Sementara untuk pembinaan guru, lanjut Faid, langsung dipegang oleh Badko Kota melalui alat kelengkapan organisasi. 

Yaitu Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Al Quran (LP3Q) untuk metodologi pembelajarannya. Sedangkan untuk materi pengajaran, misalnya cara mengaji, diserahkan kepada lembaga masing-masing.

 

“Mereka dipersilahkan untuk memilih metode yang akan pakai, tanpa kita mereferensikan ke salah satunya. Misalnya Iqro, Qiroati, Al Baghdadi, An Nuur, atau Ummi, terserah, senyamannya ustadz,” terang dia.

Faid berharap, dengan cara tersebut akan meningkatkan pemahaman masyarakkat terhadap betapa pentingnya kuantitas dan kualitas pendidikan Alquran di Kota Semarang.

“Bukan sekadar soal ilmu pengetahuan, tetapi juga moral, akhlak, integritas. Itu kan jadi salah satu hal yang paling kita butuhkan untuk saat ini, selain modal kapital, selain soal modal modus demografi,” katanya

 

SEMARANG (Sigi Jateng) – Peran asatidz harus dapat dirasakan kehadirannya tidak hanya saat memeberikan pengajaran bagi santri namun juga dalam kegiatan diluar pengajaran, seperti pengabdian pada masyarakat, penelitian atau ikut memelihara manuskrip pendidikan Al-Qur’an ala Nusantara.

Semarang – Minggu (5 Februari 2023), bertempat di aula Kantor Kecamatan Semarang Selatan, Pengurus Badko LPQ Kecamatan Semarang Selatan masa khidmat 2022-2027, dilantik dan dikukuhkan Camat setempat.

SEMARANG (Sigi Jateng) – Badan koordinasi Taman Pendidikan Al-Qur’an (Badko TPQ) Kota Semarang menggelar wisuda di auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

AKURAT.CO Pemikiran Kyai Sholeh Darat terus menjadi perhatian pengkaji Islam di Semarang. Terbaru, hal tersebut dijadikan tema pembinaan Asatidz Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur'an (Badko LPQ) Kota Semarang pada Minggu sore (29/1/2023) di kantor

SEMARANG (Sigi Jateng) – Plt Walikota semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu berharap suatu saat pendidikan keagamaan dasar seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an