Ribuan Orang Semarakkan Kirab Budaya Haul KH Sholeh Darat, Badko LPQ Kerahkan 500 Ustadz
- Ditulis oleh Badko LPQ Semarang
SEMARANG, suaramerdeka.com – Ribuan warga memadati kawasan Kampung Melayu Semarang Utara untuk mengikuti kirab budaya dalam rangka peringatan Haul KH Sholeh Darat, Minggu
(19/4/2026).
Kegiatan berlangsung meriah dengan perpaduan nuansa religi, sejarah, dan seni budaya yang kental.
Kirab dilepas langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari bersama Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom, di Tugu Perahu Kampung Melayu di Jalan Layur Dadapsari.
Rute kirab melintasi Kampung Melayu, Masjid Menara, Masjid Darat, hingga berakhir di Lapangan Kuningan, tepat di depan Masjid At-Taqwa.
Rangkaian acara diawali dengan pementasan teater karya sutradara Farid Shobri di kawasan Tugu Perahu Kampung Melayu.
Babak pertama menampilkan fragmen kepulangan KH Sholeh Darat dari Mekkah menggunakan kapal laut dan disambut Adipati Arya Purbaningrat bersama para ulama setempat.
Selanjutnya, peserta kirab menaiki dokar atau delman, diiringi pasukan berkostum prajurit Mataram Islam.
Di belakangnya, ratusan ustadz dari Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) Kota Semarang serta para aktivis Nahdlatul Ulama turut meramaikan arak-arakan.
Setibanya di Masjid Darat, peninggalan KH Sholeh Darat, rombongan kembali disuguhi pementasan teater yang menggambarkan kiprah beliau dalam memimpin pesantren peninggalan mertuanya, KH Murtadho.
Dalam adegan tersebut juga ditampilkan sosok RA Kartini sebagai murid yang menimba ilmu kepada KH Sholeh Darat.
Kirab kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Lapangan Kuningan.
Di lokasi akhir, dipentaskan babak penutup yang menggambarkan kemanunggalan KH Sholeh Darat bersama ulama, pemimpin, dan rakyat dalam melawan penjajahan melalui jalur pendidikan.
Usai pementasan, acara ditutup dengan konser akbar yang menghadirkan 15 grup rebana.
Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom mengapresiasi seluruh panitia dan tim kreatif yang telah merancang kegiatan tersebut dengan matang.
Ia menilai kirab budaya dan Semarang Bersholawat yang diisi belasan grup hadroh serta pertunjukan teater mampu memberikan inspirasi sekaligus edukasi kepada masyarakat.
“Kegiatan ini sangat luar biasa, dilaksanakan di kawasan bersejarah tempat KH Sholeh Darat pernah berdakwah dan mendirikan pesantren. Harapannya, kirab ini bisa menjadi agenda rutin tahunan dan semakin melibatkan masyarakat luas,” ujarnya.
KH Anasom juga menekankan nilai nasionalisme yang diajarkan KH Sholeh Darat melalui karya-karyanya.
Salah satunya melalui penulisan kitab berbahasa Jawa dengan huruf Arab pegon sebagai upaya mencerdaskan masyarakat serta membangun semangat cinta tanah air.
Bahkan, pada masa penjajahan, KH Sholeh Darat mendorong masyarakat untuk tidak meniru gaya berpakaian Belanda sebagai simbol perlawanan kultural.
Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Haul KH Sholeh Darat yang juga diusulkan sebagai pahlawan nasional.
“Beliau berjuang tanpa senjata, tetapi melalui karya-karya yang mampu membangkitkan semangat generasi muda. Kegiatan ini menjadi perpaduan antara seni budaya dan nilai religius, sekaligus memperkuat wisata religi di Kota Semarang,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Badko LPQ Kota Semarang Bahrul Fawaid menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kirab budaya tersebut. Pihaknya turut mengerahkan sekitar 500 personel ustadz/ustadzah untuk memeriahkan kegiatan.
“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini. Kami bangga bisa menjadi bagian dalam mensyiarkan haul Mbah Sholeh Darat yang merupakan mahaguru ulama Nusantara,” katanya.
Camat Semarang Utara Siwi Wahyuningsih, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi yang diberikan, termasuk peran Wali Kota Semarang dalam mendukung kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada Mbah KH Sholeh Darat yang petilasannya berada di wilayah kami. Beliau adalah mahaguru ulama Nusantara. Apa yang dilakukan para kiai ini sangat tepat, dan ini juga bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong beliau menjadi Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Ia pun berharap, kirab budaya itu menjadi agenda rutin sekaligus daya tarik wisata religi, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan memperkuat nilai sejarah serta spiritual masyarakat Kota Semarang.***


