Warisan KH Sholeh Darat: Inspirasi Membangun Generasi Qurani di Kota Semarang
- Ditulis oleh Badko LPQ Semarang
SEMARANG, suaramerdeka.com — Sosok ulama besar Nusantara, KH Sholeh Darat, kembali menjadi inspirasi dalam upaya membangun generasi Qurani di Kota Semarang.
Hal itu mengemuka dalam seminar dan pembinaan asatidz yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-479 Kota Semarang dan HUT ke-32 Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al Quran (BADKO LPQ), di Sekretariat BADKO LPQ Kota Semarang, Jumat (8/5/2026).
Mengusung tema “Menyiapkan Generasi Qurani melalui Pendekatan Kearifan Lokal: Belajar dari KH Sholeh Darat Semarang”, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Ali Romdhoni.
Dalam pemaparannya, Ali Romdhoni menegaskan, perjuangan KH Sholeh Darat dalam menjaga dan membumikan Al Quran sangat relevan bagi para guru ngaji dan pengajar Al Quran saat ini.
Menurutnya, KH Sholeh Darat bukan sekadar ulama besar, tetapi juga simbol keberpihakan terhadap masyarakat kecil melalui dakwah berbasis budaya lokal.
“KH Sholeh Darat adalah ulama dengan reputasi internasional, tetapi beliau memilih pulang ke Semarang untuk mengajar masyarakat awam.
Itu menunjukkan keberpihakan beliau kepada umat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, KH Sholeh Darat atau KH Muhammad Sholeh bin Umar Al-Samarani lahir di Jepara pada 1820 dan dikenal sebagai ulama Nusantara yang memiliki jaringan keilmuan hingga Makkah.
Setelah menimba ilmu dari banyak ulama besar di Jawa dan Makkah, beliau memilih kembali ke tanah air dan mengabdikan ilmunya untuk masyarakat bawah.
Ali menyebut salah satu kekuatan dakwah KH Sholeh Darat adalah penggunaan bahasa Jawa Pegon sebagai media penyampaian ilmu agama agar mudah dipahami masyarakat.
Strategi itu dinilai sebagai bentuk kecerdasan budaya dalam membumikan nilai-nilai Al Quran di tengah masyarakat Jawa.
“Beliau menjaga tradisi, etika Jawa, sekaligus menguatkan pemahaman Al Quran.
Ini pelajaran penting bahwa dakwah harus dekat dengan budaya masyarakat,” katanya.
Dalam forum tersebut, Ali juga menyoroti bagaimana proses penjagaan Al Quran sejak masa Nabi Muhammad SAW dilakukan secara kolektif melalui hafalan dan penulisan, hingga akhirnya melahirkan tradisi pendidikan Al Quran yang terus berkembang sampai sekarang.
Ia menilai Indonesia, khususnya Jawa Tengah, memiliki tradisi pembelajaran Al Quran yang sangat kuat.
Bahkan metode pembelajaran baca tulis Al Quran seperti Iqra dan Qiraati disebut sebagai inovasi besar yang lahir dari Indonesia dan mempermudah umat dalam belajar Al Quran.
“Indonesia dianugerahi umat muslim terbesar, penghafal Al Quran yang banyak, dan metode pembelajaran Al Quran yang luar biasa.
Ini harus terus dirawat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BADKO LPQ Kota Semarang, Bahrul Fawaid, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi Qurani melalui pendidikan nonformal di Kota Semarang.
Menurutnya, KH Sholeh Darat merupakan salah satu tokoh penting Semarang yang patut dijadikan teladan oleh para pengajar Al Quran karena berhasil menggabungkan keilmuan tinggi dengan pengabdian kepada masyarakat kecil.
“Beliau ulama kelas dunia, tetapi memilih pulang kampung untuk mengajar masyarakat.
Ini menjadi teladan bahwa ilmu harus membawa manfaat bagi umat,” katanya.
Bahrul menambahkan, BADKO LPQ Kota Semarang juga terus berupaya meningkatkan kualitas para guru ngaji, termasuk membuka akses beasiswa pendidikan bagi para pengajar Al Quran bekerja sama dengan berbagai pihak.
Ia berharap seluruh asatidz di Kota Semarang terus memperkuat peran dalam membentuk generasi Qurani yang kokoh akidahnya, rajin ibadah, berakhlakul karimah, dan memiliki kecintaan terhadap tanah air.
“Melalui pendidikan Al Quran nonformal, kita ingin mewujudkan generasi Qurani yang berakhlak dan cinta Indonesia,” pungkasnya.


