SEMARANG, suaramerdeka.com  – Ketua Dewan  Masjid  Indonesia ( DMI ) Kota  Semarang  H Ahmad Fuad menuturkan, fungsi masjid bukan hanya untuk tempat ibadah saja.

Tetapi masjid juga menjadi tempat  pendidikanpembinaan , dan kegiatan  sosial  kemasyarakatan.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam  pembinaan  asatidz dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN).

Acara bertema “Sinergitas  Masjid  dan Lembaga Pendidikan Al-Qur'an dalam Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an”, di Sekretariat Badko LPQ Kota  Semarang , belum lama ini. 

Menurut Fuad, pada zaman Rasulullah SAW, semua peradaban dimulai dan berada di masjid.

Karena masjid menjadi tempat strategi dan mungkin untuk pengembangan  pendidikan  dan  pembinaan  Al-Qur'an.etapi pada saat ini, masjid lebih banyak difungsikan hanya untuk beribadah.etapi pada saat ini, masjid lebih banyak difungsikan hanya untuk beribadah.

"Untuk itu ta'mir perlu menghargai, agar lebih peduli," katanya.

Untuk itu, lanjut Fuad, perlu diadakan program masjid ramah anak, untuk mempersiapkan generasi penerus dalam memakmurkan masjid.

Padahal, kepemimpinan, dari hasil survei, disebutkan 65 persen muslim Indonesia buta Al Qur'an.

“Perlu adanya strategi dan target lima tahun ke depan bisa nol. Sehingga  DMI  merencanakan untuk mengundang ta'mir masjid se-Kota  Semarang ,"

 

"Dari situ bisa kita berikan dorongan untuk disampaikan lebih  TPQ  dan bisa kita kaitkan dengan Al-Qur'an," katanya.

Sementara Ketua Badko LPQ Kota  Semarang  Bahrul Fawaid, menambahkan, banyaknya  TPQ  menginduk menjadi satu di masjid, itu menunjukkan bahwa masjid menjadi peran penting.

Padahal, kepemimpinan, dari hasil survei, disebutkan 65 persen muslim Indonesia buta Al Qur'an.

“Perlu adanya strategi dan target lima tahun ke depan bisa nol. Sehingga  DMI  merencanakan untuk mengundang ta'mir masjid se-Kota  Semarang ,"

 

"Dari situ bisa kita berikan dorongan untuk disampaikan lebih  TPQ  dan bisa kita kaitkan dengan Al-Qur'an," katanya.

Sementara Ketua Badko LPQ Kota  Semarang  Bahrul Fawaid, menambahkan, banyaknya  TPQ  menginduk menjadi satu di masjid, itu menunjukkan bahwa masjid menjadi peran penting.

 

Semarang, “Mengajar mengaji, menjadi guru TPQ adalah tugas mulia yang saya yakin tidak semua mampu menjalaninya. Banyak orang yang bisa dan mungkin lebih pandai daripada kita, namun yang mau, yang tentu belum semua. Apa saja secara materi dan ekonomi tidak memiliki nilai kemanfaatan langsung, orang pun berfikir berkali-kali untuk menjalaninya,” komentar dan kesimpulan awal H. Agus Haryadi selaku Wakil Ketua 2 Badko LPQ Kota Semarang, yang disampaikannya pada saat melakukan pekerjaan langsung beberapa usaha ustadz dan ustadzah LPQ di lingkungan kota Semarang, Minggu (23/4/2022).

H. Agus Haryadi menambahkan, dari hasil beberapa kali melakukan langsung di lapangan, etos kerja dan semangat mengajar mengaji dari para ustadz-ustadzah LPQ sungguh luar biasa. “Etos kerja dan semangat mengajar ngaji berimbang dengan perjuangannya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.

“Ustadzah Tutik berhasil membantu menopang kehidupan keluarga lainnya dengan membuka warung kelontong yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah, makanan ringan, alat tulis kantor, dan keperluan sehari-hari,” lanjutnya.

“Selain ustadzah Tutik, ada pula ustadz dan ustadzah lain seperti ustadzah Umi Makrifah. Aktivitas beliau dari Senin-Jumat, menjual penthol goreng dan penthol kuah di jalan Arjuna dari pukul 10.00 pagi sampai sore, setelah itu beliau mengajar di LPQ Bintang kecil, sedangkan kalau Sabtu dan Ahad karena libur LPQ, beliau berjualan dari pagi sampai malam,” terangnya .

Ia juga memberikan contoh pasangan penggiat LPQ lainnya, yang juga menjadi inspirator yaitu, ustadz Soegijodan ustadzah Arin, yang merupakan pengajar di TPQ yang beralamat di jalan Gurame Semarang Utara. “Berkhidmah mengajar TPQ dari sore sampai bakda isyak, keduanya memiliki impian membuka usaha atau memproduksi gamis dan jilbab dengan merek sendiri. Saat ini, pasangan ini telah memiliki modal sebuah mesin jahit dan mesin obras. Impian tersebut bukan tanpa alasan, sudah sejak lama beliau menerima jasa permak pakaian di rumah kontrakkannya, sekaligus sebagai tempat anak-anak mengaji,” ujarnya.

Gambaran ini menunjukkan bahwasanya semangat dan ghirah berdakwah cinta ayat Allah khususnya di dunia TPQ, harus menunggu petaan ekonomi, atau kelebihan materi. Namun ini semua adalah panggilan jiwa, panggilan hati, dan panggilan iman. “Mereka para penggiat LPQ merupakan teladan bagi kita. Makan dakwah jalan, mengajar ngaji dan TPQ jalan dan upaya ikhtiar ekonomi pun jalan. Luar biasa, semoga kita semua istiqomah menjalaninya. Amin,” tandasnya.(Agus Haryadi)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Proses tumbuh kembang yang dialami setiap anak akan berlangsung unik. Dalam golden Age (usia emas) tahap tumbuh kembang anak tiap tahun dapat dilihat dari fisik, kemampuan motoric, kemampuan sosial dan emosional, dan lain-lain. 

Hal tersebut disampaikan oleh Bunda PAUD Kota Semarang yang juga Ketua TP PKK Kota Semarang Krisseptiana dalam kegiatan Bulanan Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) Kota Semarang melalui platform zoom terselenggara pada Jum’at (30/9/2022) dengan tema “Peran Keluarga dalam Penguatan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini”.

Istri Walikota Semarang Hendrar Prihadi itu menegaskan, mencetak anak sukses bukan hanya tergantung pada lembaga pendidikan formal, melainkan bisa kita mulai dengan memberikan pendidikan di dalam keluarga sejak usia dini juga dalam lembaga pendidikan non formal. 

“Satu diantara faktor penentu keberhasilan mencetak anak yang berkualitas adalah dengan memanfaatkan suatu kesempatan emas, atau masa keemasan dalam periodisasi tumbuh kembang mausia atau yang dalam kajian periodisasi pertumbuhan dan perkembangan manusia,” ujar wanita yang akrab disapa Tia ini. 

Program ini sendiri merupakan pembinaan bagi asatidz di lingkungan Badko LPQ Kota Semarang yang digelar tiap bulan. Dalam forum tersebut hadir peserta dari 16 kecamatan. 

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan fasilitas terhadap Asatidz untuk memperoleh khasanah pengetahuan tidak hanya dalam bidang keagamaan atau ke TPQan namun juga bagaimana Asatidz mampu untuk menyesuaikan diri di era yang serba modern khususnya perhatian untuk tumbuh kembang anak.

Kembali ke materi, Tia menekankan bahwa keluarga memiliki porsi cukup besar dalam menentukan kualitas anak dibuktikan dengan cara membangun komunikasi dan cara memberikan edukasi kepada anak, seperti bermain, bercerita, dan lain-lain. 

“Pengembangan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual seorang anak sering terletak pada tingkat kemampuan dan kesadaran orang tua dalam memanfaatkan peluang pada masa keemasan ini,” papar Tia. 

Tingkat optimalisasi peran pengasuhan orang tua yang kontinyu dan konsisten terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada priode tersebut sangat menentukan kualitas anak dikemudian hari. 

Tia menjelaskan, pengasuhan yang dimaksud adalah perawatan dan pendidikan, selain dengan pemberian nutrisi makanan yang memadai untuk pengembangan kecerdasan intelektual, juga nutrisi pemberian non materi untuk pengembangan kecerdasan emosi dan spiritual yang dilakukan melalui kontinuitas dan konsistensi pengasuhan, pendidikan serta penerapan disiplin dalam internalisasi dan sosialisasi ajaran agama, nilai-nilai moral, sosial dan budaya pada periode the golden age tersebut.

Ia menambahkan bahwa kaitannya stunting, ini tidak hanya menjadi isu nasional tapi juga internasiona, di Kota Semarang masih tergolong tinggi kurang lebih 1.365 anak mengalami stunting penyebab karena faktor ekonomi dan edukasi terkait gizi. 

“Sebagian besar karena alasan ekonomi dan ada orangtua yang tidak paham soal gizi. Jadi makan enak belum tentu bergizi,” lanjut Tia. 

Untuk itu pihaknya berkomitmen melakukan percepatan penurunan stunting di wilayah Kota Semarang melalui sinergitas dengan pemerintah Kota Semarang juga dengan langkah membentuk tim di setiap kelurahan. 

“Dan tentu sinergitas dengan organisasi atau Lembaga tidak terkecuali Badko LPQ Kota Semarang agar tujuan itu semakin mudah dijalankan,” tandas Tia. 

Sementara itu, Ketua Badko LPQ Kota Semarang, Bahrul Fawaid sepakat dengan materi yang disampaikan Tia. 

Bahrul Fawaid menyampaikan Badko LPQ Kota Semarang telah memiliki keanggotaan kurang lebih 1268 lembaga terdiri dari 4.538 Pengajar serta 61.260 santri di tahun 2022 yang semuanya itu bisa di akses melalui website Badko dengan sistem informasi keanggotaan Badko LPQ kota Semarang (SIGAP).

“Dalam melaksankan sinergitas untuk kegiatan sosial khususnya, Badko LPQ kota Semarang juga berupaya berperan aktif termasuk berkontribusi kepada saudara yang terkena bencana belum lama ini,” tambahnya. 

Terbaru, Bahrul melaporlan, Badko LPQ Kota Semarang baru saja menyerahkan Infaq dari Asatidz dan Santri Badko LPQ Kota Semarnag melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang merupakan Alat Kelngkapan Organisasi (AKO) kepada Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kota Semarang. (Mushonifin)

Semarang ||mata elang Nusantara.com-Mengajar ngaji, menjadi guru TPQ adalah tugas mulia yang saya yakin tidak semua mampu menjalaninya. Banyak orang yang bisa dan mungkin lebih pandai daripada kita, namun yang mau, yang berkenan belum tentu semua. Terlebih lagi jika, hal ini secara materi dan ekonomi tidak memiliki nilai kemanfaatan yang langsung, dan orang pun berfikir berkali kali untuk menjalaninya. Demikian komentar dan kesimpulan awal H. Agus Haryadi Selak Wakil Ketua 2 Badko LPQ Kota Semarang, yang bertanggung jawab terhadap Program Merdeka Usaha tahun 2022 ini.

Dan alhamdulillah, dari hasil beberapa kali survey terhadap ustadz ustadzah LPQ Kota Semarang, Masya Allah sangat luar biasa.

Etos kerja dan semangat mengajar ngaji berimbang, sehingga apa yang menjadi aktivitas ekonomi, usaha ekonomi juga untuk menopang kehidupan bersama keluarga kecil ustadz dan ustadzah tersebut. 

Ustadzah Tutik, usaha buka warung kelontong di rumah ikut orang tua (ngopeni ayah) asal Wonogiri. Menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, snack, alat tulis dan lain-lain.

Demikian pula ustadzah Umi Makrifah, dalam menambah penopang ekonomi, beliau kalo sore ngajar TPQ Di Bintang kecil, mulai jualan penthol goreng dan penthol kuah di jalan Arjuna dari jam 10.00 pagi sampai sore dan kalo sabtu Ahad sampai malam.

Satu lagi pasangan ustad Soegijo ustadzah Arin Pegiat TPQ di jalan Gurame Semarang Utara. Berkhidmah mengajar TPQ dari sore sampai bakda Isyak mengajar. Dan ingin membuka usaha membuat baju Gamis dan Jilbab dengan brand sendiri. Sudah memiliki modal suami istri ini sebuah mesin jahit dan mesin obras serta sudah sejak lama menerima permak pakaian di rumah kontrakkannya yang sekaligus sebagai Tempat anak anak Mengaji/ TPQ.

 

Gambaran ini nenunjukkan bahwasanya, semangat dan ghiroh berdakwah menegakkan ayat Allah khususnya di dunia TPQ, tidaklah harus menunggu mapan ekonomi, lebih materi. Tidak. Namun ini semua adalah panggilan jiwa, panggilan hati, terlebih adalah panggilan iman. Makan dakwah jalan, mengajar ngaji dan TPQ jalan dan upaya ihtiar ekonomipun jalan. Luar biasa, semoga kita semua iatiqomah nenjalanihya. Aamiin

Semarang, Rabu (14/9/2022) BADKO LPQ dan BAZNAS Kota Semarang melakukan penandatanganan kerja sama dalam bidang pemberdayaan ekonomi, yang dilakukan di kantor sekretariat BAZNAS Kota Semarang.

Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut pelatihan kewirausahaan yang telah diadakan BADKO LPQ dan BAZNAS Kota Semarang pada beberapa waktu lalu, dengan tujuan untuk memberdayakan kemandirian ekonomi ustad-ustazah LPQ.

Sasaran dari kerja sama ini adalah ustad-ustazah yang masih aktif mengajar di LPQ dan berdomisili di Kota Semarang.

Dalam penandatangan kerjasama, hadir Unsur Pelaksana BAZNAS Kota Semarang, Rifa’i dan Ahmad Muhtadin, dan Mundarsih pelaku usaha angkringan BADKO LPQ Kecamatan Mijen, Ahmad Daim selaku pengurus BADKO LPQ Kota Semarang, serta pengurus BADKO LPQ kecamatan Mijen.

Pada waktu dan tempat yang berbeda, Agus Haryadi selaku pelaksana program AKO UPZ BADKO LPQ Kota Semarang menuturkan, telah menyiapkan tim usaha pada beberapa BADKO Kecamatan. “Saat ini kami baru mentasarufkan bantuan modal kepada BADKO LPQ Mijen. Masih ada 3 kecamatan yang juga ditunggu keaktifannya untuk memulai pelaksanaan pemberdayaan BADKO LPQnya, yakni Kecamatan Ngaliyan, Tugu dan Semarang Barat. Masing-masing kecamatan sudah disiapkan 2 tim usaha yang beranggotakan 5 anggota ustad-ustazah LPQ,” terangnya.

“Kami menyambut baik program-program dari BAZNAS Kota Semarang, yang semakin hari semakin kreatif dan inovatif. Dari kerja sama ini banyak manfaat dirasakan oleh ustad dan ustazah LPQ yang masuk kategori mustahik, seperti beberapa guru LPQ Kecamatan Mijen yang memiliki usaha jajan pasar dan usaha lainnya,” sambungnya.

Ia menuturkan pula akan ada pelatihan kewirausahaan bagi 12 BADKO LPQ Kecamatan yang belum mendapat giliran untuk mengikuti pelatihan serupa.

“Kerja sama ini tidak hanya sebatas bantuan modal usaha bagi ustad-ustazah LPQ di Kota Semarang, tetapi juga insentif sebagai bentuk apresiasi kepada ustad-ustazah yang rumahnya berkenan untuk dibranding dengan logo BAZNAS,” pungkasnya.(Agus Haryadi/NBA)

 

SEMARANG (Sigi Jateng) – Badan Koordinasi (Badko) LPQ Kota Semarang menggelar kegiatan pembinaan asatidz dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) mengusung tema “Sinergitas Masjid dan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an dalam Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an”.

Kegiatan ini merupakan rangkaian program kerja bulanan pengurus Badko LPQ Kota Semarang untuk mengadakan pembinaan juga dalam memberikan fasilitas terhadap Asatidz untuk memperoleh khasanah pengetahuan tidak hanya dalam bidang keagamaan atau ke TPQan.

Sebelumnya sejak tanggal 22 Oktober, dalam rangkaian semarak HSN 2022 ada beberapa kegiatan yang diselenggarakan Badko LPQ Kota Semarang diantaranya Maulidur Rasul, Khataman Al-Qur’an, Pengajian, dan Pembinaan Asatidz.

Dalam kesempatan pembinaan kali ini dihadiri oleh seluruh perwakilan 16 dari ketua Badko LPQ kecamatan secara luring dan hadir dalam online sebanyak 200 peserta.

Saat memberikan Sambutannya Ketua Badko LPQ Kota Semarang Dr Bahrul Fawaid menyampaikan bahwa TPQ menginduk menjadi satu di masjid karena masjid menjadi peran penting, untuk itu mari kita bersinergi dengan masjid dan mushola untuk kemajuan LPQ Kota Semarang. 

“Kita memilih tema ini tentu tidak serta merta. Betapa kalau kita berjalan sendiri menjadi tidak sinkron. Maksudnya, TPQ kalau mau besar tidak boleh berjalan sendiri, harus bersama, ada banyak elemen masyarakat yang bisa kita rangkul,” ujarnya pada Minggu Sore (23/10/2022).

“Terkait permasalahan kurangnya asatidz, insyaAllah tahun 2023 akan kami adakan open recruitment untuk volunteer asatidz dari berbagai perguruan tinggi Islam, baik dari unwahas, UIN, maupun Unissula,” tandas Bahrul Fawaid.

Narasumber kali Ini, Ir. H. Ahmad Fuad menuturkan bahwa Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup agar kita selamat di dunia dan akhirat. Tugas Asatidz itu sangat mulia karena mendidik anak agar bisa membaca al Qur’an dan menjadikan anak generasi Qur’ani.

“Sebenarnya mengenai sinergitas antar masjid dan TPQ dari dulu sudah bersinergi, kebanyakan TPQ berada di masjid. Namun, umumnya ta’mir masjid kurang perhatian dengan pengelolaan TPQ. Untuk itu ta’mir harus didorong agar lebih peduli dengan pengelolaan TPQ,” urainya.

Ahmad Fuad menjelaskan bahwa fungsi masjid antara lain untuk ibadah, pendidikan dan pembinaan, dan sosial kemasyarakatan. Pada saat ini, masjid lebih banyak difungsikan hanya untuk ibadah. Sehingga diharapkan fungsi masjid dapat lebih dioptimalkan.

“Karena pada zaman Rasulullah SAW pun semua peradaban berada di masjid. Karena masjid menjadi tempat yang strategis dan berpotensi untuk pengembangan pendidikan dan pembinaan Al-Qur’an,” jelasnya.

“Perlu diadakan program Masjid ramah anak, untuk mempersiapkan generasi penerus dalam memakmurkan masjid. Hasil survey, 65% muslim Indonesia buta Al Qur’an, untuk itu perlu strategi. Targetnya 5 tahun bisa zero. Dan rencananya, dari DMI akan mengundang ta’mir masjid se-Kota Semarang, mungkin dari situ bisa kita berikan dorongan untuk lebih memperhatikan TPQ dan bisa kita sampaikan terkait buta Al-Qur’an,” tutup ketua DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kota Semarang tersebut. (Mushonifin)

Semarang, “Lembaga pendidikan nonformal akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat jika tidak dikelola dengan istimewa. Seperti majelis taklim, kelompok pengajian, Taman pendidikan Alquran (TPQ), Madrasah Diniyah (Madin). Itulah kondisi LPQ lima atau sepuluh tahun yang lalu,” tutur Bahrul Fawaid Ketua Badan Koordinasi (Badko) Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ) Kota Semarang dalam sambutannya pada kegiatan Musyawarah Kecamatan (Muscam) Badko LPQ Kecamatan Semarang Utara, Minggu (31/7/2022) yang digelar di Kantor Kecamatan setempat.

“Namun sekarang di bawah naungan Badko LPQ Kota Semarang, LPQ telah setara dengan lembaga dan pendidikan formal,” imbuhnya.

Ia menyampaikan, berdasarkan AD ART Badko LPQ yang ditetapkan dalam Musda tahun 2013 yang telah disempurnakan pada tahun 2020, kepemimpinan BADKO maksimal hanya 2 periode, dengan masa khidmat 5 tahun per periode. Hal ini dibuat dengan tujuan untuk menjaga kedinamisan dan aksistensi organisasi.

“Salah satu program Badko LPQ Kota Semarang  adalah mengawal penyelenggaraan Muscam di 16 Kecamatan se-Kota Semarang. Panitia Muscam telah membuat jadwal dan rundown acara, yang harapannya dilaksanakan secara serempak se-Kota Semarang,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga berpesan agar Badko LPQ Kecamatan selalu menjaga profesionalitas, kekompakan dan kerja sama antar anggota lintas generasi. Selain itu Badko LPQ Kecamatan juga diimbau siap bermetamorfosis, siap berperan dan di perankan.

Dalam kegiatan tersebut, Bahrul Fawaid tidak hadir sendiri, ia didampingi Agus Haryadi selaku Wakil Ketua 2 dan Nurul Yakin Sekretaris Badko LPQ Kota Semarang.

Hadir pula Camat Semarang Utara, Margo Haryadi. Dalam sambutannya, ia menuturkan akan mendukung dan bersinergi dengan Badko LPQ Kecamatan. Hal senada pun disampaikan oleh Sari Luthfiyah Penyuluh Agama Islam Fungsional kecamatan Semarang Utara, yang ikut hadir dalam

Hari itu, Badko LPQ Kecamatan Semarang Selatan juga menggelar acara yang sama di Masjid At Taqwa yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno.(Agus Haryadi/NBA)